Tamatlah Sudah Episode Cinta

August 19th, 2008 by mencarisuami

Seketika saja tindakan ku seperti membodohi diri. Berdiam pada fenomena yang tak lagi memperdulikan logika. Pun perasaan pelan-pelan beranjak lari. Mengejar kepuasan untuk berucap selamat tinggal realita.

Tak akan ku biarkan air mata tumpah mengotori pipi, meneteskan rasa asin di bibir, dan berteriak sekuatnya dalam dekapan bantal. Aku hanya terdiam pada sebuah pilihan yang memaksaku untuk tetap bertahan. Kesal tanpa protes, pedih tanpa air mata, senang pun tanpa tertawa.

Manusia apa lah aku. Membiarkan pilihan hidup dengan ketidaknyamanan dengan seseorang. Padahal aku tau semua orang ingin bahagia. Namun apakah bahagia berpihak pada ku ketika separuh hidup ku porak poranda tanpa ada yang tahu cara membenahinya.

Cermin itu seperti menatapku dengan sejuta ejekan BODOH. Mata yang terpampang dari pantulannya tajam tanpa isi. Senyum pun terlihat sinis, hingga tangis tak juga memuaskan. Ingin rasanya ku hancurkan semua dengan segenap kemampuan ku. Meninggalkan seseorang dengan rasa angkuh. Dan menutup rapat-rapat prahara yang berkecamuk dalam jiwa. Hingga aku berhenti menyalahkan dan disalahkan.

Pergi saja cintamu pergi, bilang saja pada semua, biar semua tau adanya, diriku kini sendiri…Akhh, masih saja nokia music edition itu melantunkan picisan setan ala penyanyi murahan. Bahwa tak harus perkara berakhir dengan perpisahan. Dan tak pula perpisahan berakhir dengan sendiri untuk sebuah kesakitan. Hanya saja manusia tampak bodoh jika bertemu perbedaan, ketidakcocokan, bahkan ketidaknyamanan. Yang pintar, yang bodoh, yang cantik, yang jelek, semua hanya bisa menyalahkan. Menutupi kelemahan di atas kelemahan orang lain. Sampai tamatlah sudah episode cinta.

tya, Cikutra 19 aug 08… 22.00

Bookmark and Share

Menanti Fase Ke dua Hidupku

July 5th, 2008 by mencarisuami

Bumi Parahyangan mungkin sedang khidmat menanti hadirku. Dan aku pun harus mengakhiri hingar bingar kota kelahiran yang menawarkan sejuta kenangan. Kota yang tak lagi terdengar suara burung gereja, tak ada rumput ilalang, pun tak ada motor vespa yang memboncengi ku di depan dengan helm merah bergambar Batman.

Hanya tinggal enam hari aku menyibak lingkungan padat dan berisik. Meninggalkan semua atribut masa lalu untuk melangkah ke jenjang yang baru. Aku masih saja seperti mimpi, akankah aku sanggup melewati itu. Beranjak pada fase ke dua untuk menutup fase pertama. Fase kedua yang masih mengawang dan fase pertama yang perlahan hilang.

Adalah hidup yang penuh misteri, karena aku tidak pernah tahu rencana apa di balik ini. Cemas, sedih, haru, dan bangga bercampuraduk dalam sepenggal langkahku yang tersisa. Aku mungkin tak akan sehebat mama mendampingi papa, aku juga bukanlah sempurna yang dinanti-nanti pasangan jiwa ku. Namun ternyata, waktu merangkulku untuk tetap melaju bersama pilihan.

Dalam masa pingitan jelang hari bahagia ku 12 Juli mendatang, sungguh masih juga belum ku mengerti kenapa hatiku tak berhenti menangis. Bagaimana pula aku tak menangis bahwa ternyata jodoh ku adalah lelaki yang dipinta papa pada hembusan nafas terakhirnya. Angkuh mengajarkanku akan penyesalan. Semula aku berfkir kelak pernikahan ku akan diikrarkan dari mulut papa, karena aku sangat yakin dia segera pulih. Menghantam setan ganas dalam mulutnya hingga ia tak mampu lagi berucap ribuan hadist.

Satu hal yang menakutkan menjelang fase ke dua adalah aku tak bisa memberikan yang terbaik bagi pasangan. Aku mengecawakan, membosankan, hingga aku lah yang ditinggalkan. Paranoid berlebihan itu mungkin kerap dirasakan semua wanita yang akan melangkah ke pelaminan. Tentang malam yang tak lagi sendiri. Tentang teman yang beranjak pergi, dan tentang perut buncit yang akan menggembyorkan postur tubuh ini.

Siang ini aku masih ditemani laptop kecil di kamar yang sebentar lagi kutinggalkan. Sudah lama aku tidak merasa segundah dan seharu ini. Masih ku pandangi foto papa di meja kamar yang mendampingiku berbaju toga. Aku percaya papa bangga pada ku. Tentang keberhasilanku menaklukkan sarjana empat tahun dan tentang pilihanku yang dijatuhkan untuk lelaki soleh yang akhirnya menggantikan kepergiannya.

Namun aku masih belum percaya akankah hidup ku selanjutnya lebih bahagia atau malah lebih rumit. Menyelesaikan masalah-masalah kecil, melewati segudang perbedaan, dan meikhlaskan urusan karir yang mulai terbendung. Sejenak khayalku melayang dalam indahnya rangkulan tubuh yang sempurna. Bermanja dan memanjakannya dengan sentuhan hangat. Berbincang tentang hal yang serius atau sekadar lelucon ringan untuk mengusir kebosanan.

Rasa ini tak pernah ketemui sebelumnya. Memiliki orang yang begitu sabar, pemaaf, dan penyayang. Walau hati ku masih tetap menantang akankan benar dia sosok yang ku cari. Siap atau tidak, waktu ku tak lama lagi. Aku akan menjadi istri dan bersiap diri menjadi bunda dalam rumah tangga ku…

Bookmark and Share

Untuk Yang BUta Hati

May 30th, 2008 by mencarisuami

Tiga lelaki berkendara sekuter berderet gagah persis di depan ku. Malam itu, jarum jam tangan menyatu di angka 12. Pengendara motor masih saja bergerombol layaknya kelelawar di pohon rindang.

Belum juga lampu berpindah dari warna merah, puluhan roda dua menerobos tak teratur menantang malam yang mulai sunyi. Hanya aku dan tiga orang bersekuter yang masih menunggu hingga lampu berganti hijau. Seketika salah satu dari mereka meneriaki para pengendara nakal, “Woy, buta warna lo pada ya,” dan sekejap pula hati kecil ku menjawab, “Mendingan mereka buta warna, dari pada ‘dia’ buta hati.”

Entah mengapa jiwaku begitu marah, menyeruak ingin protes akan ketidaknyamanan dengan seseorang. Tentang hati yang ditinggal pergi, tentang rasa yang belum mati, tentang hari yang berubah sepi, dan tentang pagi beku yang tak terselimuti.

Limabelas menit lalu aku baru saja menjadi pecundang. Meniadakan malu untuk sebuah pengakuan. Membiarkan tetesan air mata membasahi pipi dan tak ingin ku hapus untuk sebuah arti. Sayang, dia hanyalah manusia yang buta hati, penyakit yang lebih parah dari buta warna.

Angin malam masih menjilati tubuh letihku. Sunyi mengajakku melewati waktu. Membiarkan rintikan air mata kering dengan sendirinya. Berteriak dalam bungkam dan menangis dalam angkuh. Aku pun tak ingin dia tahu apa itu sakit. Tak ingin pula membiarkannya larut dalam rasa yang kini kualami. Dan tetap ku biarkan dia bernari di atas panggung kehidupannya. Meneruskan jalan yang tersedia, dan menyeretnya dalam realita.

Karena aku dan dia sempat berdiri di sebuah gradasi. Menyorot fatamorgana untuk hubungan yang semu. Bermain-main lilin yang seketika berubah menjadi kobaran api. Kini, lilin kecilku tak lagi menawarkan ketenangan dalam gelap, lilin itu perlahan membakar kulitku, menawarkan sebuah rasa perih yang tak terobati.

Teruntuk MEREKA yang buta hati, kelak hidup akan mengajakmu berputar melewati roda dunia. Berhenti pada satu fase dimana giliranmu yang terlantar oleh keangkuhan.

Bookmark and Share

Berbagi Kue Negara

May 10th, 2008 by mencarisuami

Semua surat kabar dalam sepekan terakhir ini menggelontorkan issue kenaikan BBM di setiap head line nya. Sejak kenaikan terakhir pada 2005, akhirnya pemerintah harus minta bantuan rakyat atasi krisis global yang menyebutkan harga minyak dunia bertengger di posisi US$125 per barel.

Berbagai berita pesimis pun meluncur di semua segmen, tak hanya pengusaha kecil, pegawai kantoran, bahkan pembantu rumah tangga.

Koran langgananku Bisnis Indonesia telah menanti di depan pintu Kamis pagi kemarin. Head Line hari itu menyebutkan BBM naik 30%. Oby, si pembantu kecil pun bertanya, “Kak, emang kapan BBM naik? Ya ampuun, mana semua barang pada naek, Minyak Tanah, MinyakGoreng, semua naek dua kali lipat. Suami Oby duitnya segitu-gitu aja, gimana anak Oby bisa sekolah,” gumam perempuan berusia 21 tahun beranak dua itu.

Oby sedikitnya membuka mataku betapa sulitnya kaum yang sedang terjepit ditambah lagi beban baru kenaikan BBM. Suaminya sang tukang ojek pun kian terpuruk dengan kebijakan itu.

Tak hanya Oby yang saat itu mengeluh. Inne, sabahat ku yang tinggal tak berapa jauh dari rumah juga bergumam singkat. Dia memang tak menyalahi kenaikan BBM, karena wanita 25 tahun ini cukup mapan dengan pekerjaannya sebagai auditor. Namun, cicilan Yaris yang harus dibayarkan tiap bulan dari gaji yang hampir double digit itu membuatnya mengurangi jam nongkrong. Dia selalu mengenakan Shell Helix untuk mobil ber mesin v vti. Kini bahan bakar untuk mobil kelas atas itu menyentuh angka 9 bahkan hampir ke 10 ribu per liter.

Akhirnya, kue itu harus dibagi rata. Kebijakan ini memang terkesan menyusahkan rakyat. Namun apalah daya, pemerintah tak sanggup membiarkan APBNnya jebol puluhan triliun untuk menanggung subsidi BBM yang hanya dianggarkan US$96 per barel.

Di tengah kenaikan harga barang akibat krisis pangan dunia, masalah ekonomi AS, hingga sengketa di timur tengah. Negeri sekaya Indonesia pun ikut mengenyam kenaikan harga yang memaksa rakyat mengencangkan ikat pinggang. Alhasil, inflasi di paruh kedua tahun ini hampir menyentuh double digit, bahkan pertumbuhan ekonomi tak semeriah tahun lalu.

Rakyat memang tak tau menau dengan apa yang terjadi di dunia sampai ke dapur keuangan pemerintah. Menjadi tugas negara untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Kini, mereka berteriak tentang kenaikan BBM. Pemerintah hanya berdalih bahwa subsidi BBM hanya menguntungkan yang kaya. Padahal, menurutku tak semua pengemudi kendaraan bermobil dan motor itu orang kaya.

Putar memutar otak, rencananya pemerintah kembali memberikan bantuan langsung tunai (BLT) bulan ini. Duit hangat yang sebelumnya juga pernah diberikan melalui kantor-kantor pos di seluruh daerah, dan akhirnya tenggelam. Namun, BLT itu hanya akan digulirkan selama enam bulan untuk sepuluh kota di Indonesia, dan selanjutnya tentu rakyat diminta lebih mandiri.

Pegawai negeri kini juga menunggu kenaikan gaji yang sesuai dengan angka inflasi. Akhirnya, kembali ke satu kue, walau mungkin tak memberikan potongan yang sama, paling tidak semua berebut mencicipi hidangannya. Mungkin pemerintah hanya untung sekian triliun dengan menaikkan BBM 30% karena harus bertanggungjawab akan kelangsungan rakyat kecil pasca kenaikannya.

Bookmark and Share

When Woman in Love

May 3rd, 2008 by mencarisuami

Wanita punya seribu cara untuk mencintai dan berupaya dicintai. Selaput hatinya yang tipis membuat kaum hawa lebih mudah mengakui cinta bahkan terhanyut di dalamnya. Tapi selaput itu cukup elastis untuk menahan segala guncangan.

Wanita pula lah yang ternyata lebih sanggup menahan rasa sakit dan mencari cara untuk melangkah meninggalkan kesakitan itu. Hanya meninggalkan, bukan melupakan. Karena cinta tak perlu dilupakan, biarkan dia bersemayam dalam sekat hati yang punya puluhan ruang, ruang yang ditempati masing-masing sosok dan tak akan mengganggu satu sama lain.

Obrolan singkat ini berasal dari mulut tiga wanita berusia 25 tahun ke atas. Dimana usia tersebut menuntut wanita untuk lebih matang menyikapi hidup. Si wanita 25 tahun itu akan melangsungkan pernikahan dua bulan lagi. Sedangkan dua wanita lain yang berusia 27 tahun lebih menikmati kemerdekaannya dan entah sampai kapan bisa bertemu ruang yang mengukungnya kelak.

Wanita akan sangat membenci pernikahan ketika tersadar bahwa institusi itu hanya akan menjadikan dia babu bahkan pelacur murahan. Kondisi ini akan sangat berlaku bagi wanita karir yang sebenarnya mampu memenuhi kebutuhannya dengan apa yang ia punya, tanpa lelaki dan ayah sekalipun. Setelah menikah, ia akan tetap bekerja layaknya semasa lajang. Bahkan pekerjaan itu kian menumpuk karena harus mengganti popok anak pagi hari, memandikannya, menyusui di tengah malam, menyiapkan sarapan suami, hingga serangan fajar yang harus diladeni walau letih sekalipun.

Ketika dikatakan bahwa wanita berasal dari tulang rusuk lelaki, kenapa pada akhirnya perjuangan wanita tak sepadan dengan tulang rusuk yang ia punya. Beban yang berat harus dipikul oleh keterbatasan fisik dan perasaan. Bahkan pada akhirnya, sang adam pun menari di atas kekuasaannya terhadap wanita. Dia bisa memukul, hingga memoligami. Bisa bersandar di balik ketiak wanita serasa menjadi tuan di jagad raya. Serta merta pun berteriak bahwa dia lah kepala rumah tangga yang harus dipatuhi, wanita akan menjadi babu atas kegagahannya.

Jika akhirnya pertanyaan menyeruak atas latar belakang perjuangan wanita, hanya satu jawabannya, CINTA. Wanita bisa menjadi tegar dan angkuh oleh cinta. Dia bisa menangis dalam rapuhnya, kelak terbangun untuk melangkah bahwa hidup adalah berjuang. Begitulah cara wanita mencintai dan berupaya untuk dicintai, tanpa harus menjadi murahan atau berantakan.

Bookmark and Share

Di Sebuah Persimpangan

April 7th, 2008 by mencarisuami

“Aku hanya sebuah jalan bercabang, masih bisa balik arah untuk kembali, sebelum ini menjadi sejarah, dan tak bisa lagi balik arah”…sepenggal kalimat itu dikirim oleh seorang teman lewat yahoo messanger akhir pekan lalu. Teman yang ternyata begitu berbekas di kepalaku saat ini.

Mulailah sebuah masa dimana aku mulai merasa cinta di titik nadir. Kadang persimpangan yang selalu menyebabkan kebingungan. Air mata dan senyum tak menentukan pertanda pedih atau bahagia.

Aku mulai menohok pada satu makna dari segala pencarian. Jalan yang selalu saja menawarkan cita rasa tersendiri untuk ku pilih. Sampai aku pun memilih jalan bebas hambatan dan terpaksa merogo kocek lebih dalam.

Tentang pernikahan, percintaan, dan pertemanan. Tiga kata yang punya makna beda. Menikah bukan berarti telah memilih orang yang kita cintai. Mencintai juga bukan menjanjikan adanya pernikahan. Dan pertemanan lebih simple dari itu semua, tapi punya hasil akhir yang lebih signifikan.

Kali ini aku tak peduli tentang posisi. Andai saja rencana besar itu belum ada, mungkin tak se pelik ini rasanya. Tapi, adalah sebuah rencana di atas rencana. Aku tak mungkin lagi menolak takdir. Membiarkan banyak mata menangis untuk memenangkan ego ku sendirian. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan untuk menuruti kata hati.

Tak mampu pula aku berteriak, “Kenapa baru sekarang aku merasa ingin pergi?” padahal aku sangat sadar betapa kebosanan pada sosok realita. Ingin rasanya melewati jalan di tengah gunung gemunung dan lambaian ilalang. Tapi cukup sudah, aku tlah berada dalam antrian panjang pintu tol, tak mampu mundur, tapi belum juga tiba di mulut jalan. Aku pun terpaksa bersabar menanti pada giliran.

Aku Cuma punya sedikit waktu menikmati nuansa biru dengan teman yang sangat luar biasa. Teman yang pada akhirnya membuyarkan konsentrasi ku pada yang satu untuk memaruh kasih sayang menjadi dua. Akhirnya, aku hanya bisa membiarkan waktu berjalan begitu cepat. Dan berupaya sekuat tenaga agar bisa diperlambat kecepatannya.

Sesekali akal liarku berkata untuk melewati lebih jauh jalan yang bercabang itu. Tapi malaikat kecilku berkata, ini lah persimpangan yang membutuhkan sebuah peta. Sekali kau ambil jalan yang salah, waktumu akan terbuang sia-sia.

Bookmark and Share

Hilang

March 11th, 2008 by mencarisuami

Peliputan public expose salah satu bank di Hotel Grand Preanger Bandung kemarin membawa ku ke tempat 1001 malam yang menawarkan ketenangan dalam damai. Aku menikmati tiap tetesan air mata yang mengalir tak hentinya meronakan pipi dan mata yang lelah.

Seusai sholat Isya berjamaah, ingatanku melayang pada masa-masa indah bersama papa yang tersadar sudah 10 bulan berlalu. Kepergiannya yang tak terganti, satu-satu mulai terobati dengan kehadiran sang imam muda dalam fase hidupku yang baru.

Usia perak ku hanya tinggal menghitung hari. Terlalu banyak momen penting yang tak dapat terangkum dalam sebuah blog. Tentang kehadiran teman-teman baru, pun kehilangan satu demi satu.

Profesi journalis memang akan selalu bertemu banyak orang, banyak rival, dan banyak hal. Ini pula yang mengantarku bertemu jodoh yang insyaallah dengan ridhoNya akan melabuhkan kapal besar yang telah mengarungi samudra luas.

Tentang teman sepeliputan. Beberapa pekan lalu, sempat tersiar bahwa seorang wartawati koran ekonomi rolling dari desk yang selama ini kami gandrungi. Kabar itu membuat ku menghela napas lega, seakan berfikir betapa damainya hidup tanpa dia, setelah 15 bulan kehadirannya menyelimuti rasa dendamku. Wanita serakah yang sombong dan licik.

Berbeda dengan perempuan satu ini, yang selalu berebut mic saat aku ingin melantunkan angel nya Sarah Mclahen. Perempuan satu-satunya yang berani aku boncengi naik motor menjelajah Jakarta dalam dunia tanpa detik. Membangunkan ku pagi-pagi untuk kabar keberadaan seorang narsum di satu tempat. Bahkan mendengar tiap keluh perjuanganku menuju pernikahan tanpa bosan menyuport hal-hal yang posisitf.

Dan bagaimana aku tidak terhentak membaca sms perpisahannya tengah malam yang mengabarkan dia rolling ke desk lain di luar ekonomi. Tak ada lagi teman bergosip sambil menunngu narsum berjam-jam di tiap lorong tempat. Yang aku bayangkan adalah suasana setelah tak ada dia, dimana aku harus bergaul dengan wartawan-wartawan baru yang tak mengenal apa itu LDR, NPL, dan membantu ku memancing narsum untuk keluarkan statemen indah penghias headline halaman dalam.

Blog ini ku buat di atas city trans dalam perjalanan Bandung menuju Jakarta. Jari jemari sepertinya tak sanggup menekan nut dan tersadar air mata pun membasahi nut comunacator yang menjadi nyawaku setahun terakhir ini. Aku menyadari betapa kehilangan itu sangat menyakitkan.

Kemarin pagi, sambil menunggu jemputan ke Bandung dari BEJ, aku menelvonnya sekadar mengkonfirmasi berita Bank Mandiri yang jadi HL halaman ku dua hari lalu. Sebab sudah dua hari ini aku tidak bergemul dengan rutinitas bersama orang-orang yang biasanya aku temui. Dengan suara parau dia angkat telvon dan aku pun tak peduli karena telah membangunkan tidurnya. Setelah omong-omong soal berita, aku menuturkan kegundahanku menjelang hari penting dalam hidupku. Semua gedung penuh untuk resepsi sebelum September, harga catering sangat mahal, dan lain sebagainya. Terakhir, aku berkata akan segera resign untuk bekerja di luar jurnalistik. Dengan suara manja, dia ungkapkan "Kok lw gak sedih sih mau resign," aku pun menjawab, "Ngapain jadi wartawan, melalikan tugas wanita sampe lupa harus menikah," ternyata bukan itu jawaban yang harusnya keluar. Ini soal pertemanan tak sekadar karir. Aku tau dia juga kehilangan mendengar aku akan menikah dan beralih ke dunia yang lain. Tapi ternyata, ditinggalkan jauh lebih sakit dibanding meninggalkan. Intensitas pertemuan kami memang sangat berkualitas, hingga melampaui pergantian matahari terbit dan terbenam.

Sudah tiga kali aku berganti kantor sejak aku mengenal profesionalisme dan apa itu karir. Karirku yang dimulai sebagai seorang marketing cargo mengajarkan cara berinteraksi yang baik dengan teman-teman sekantor. Pernah sekali aku menahan agar air mata tak menetes saat melihat Yuli berpamitan karena mendapatkan pekerjaan baru. Dunia marketing tak bedanya dengan wartawan, kami banyak menghabiskan waktu di jalan, dan Yuli lah teman bergantian menyupir Karimun yang disediakan kantor untuk meloby costumer. Semangatku sempat anjlok usai kepergiannya walaupun aku sadar harus bersikap profesional.

Dan setelah Iras pergi, rasanya akan lebih hilang dari itu. Separuh jiwa ku seperti berhenti, ternyata lebih kehilangan dibandingkan putus cinta. Mungkin tak ada lagi yang akan meng arrange jadwal karaoke di Vizta tiap malam di akhir pekan. Berbagi bloototh berita jadi, atau melemparkan isu korporat satu sama lain. Bahkan yang lucunya, kisah dua wartawan yang dikerjain narsum karena gak ngaku dirut BCA padahal kami tau betul itu orangnya, mungkin dia takut disangkutpautkan dengan kasus BLBI atau dia nerves disalami dua wartawan secantik kami.

What ever lah, semua kisah itu hanya bisa terukir dalam lembaran jalan yang akan dipenuhi oleh kepergian dan kedatangan orang-orang yang disiapkan untuk kita. Yang jelas, semakin bertambah usia akan semakin sendiri dan banyak kehilangan orang-orang yang membekas di hati.

Bookmark and Share

Mengorbankan Negara Untuk Satu Bangku

February 12th, 2008 by mencarisuami

Mengorbankan Negara untuk Satu Bangku

Paras nya mulai tak sesegar sosok Burhanudin Abdullah (BA) di setiap peliputan yang sudah ku geluti setahun sudah. Sembilan hari terakhir ini kasus tersangka korupsi aliran dana YPPI Rp100miliar menyelinap di relung hidupnya.

Mantan Menko jaman Gusdur ini dinilai arogan oleh banyak pihak. Sebelum dianugerahi gelar tersangka oleh KPK, dia sudah dua kali tak menghadiri panggilan komite yang disinyalir mulai terpengaruh nuansa politik. Dia selalu mengunggulkan sikap independen sebagai mpunya lembaga moneter tanah air. Tak ingin pula posisinya berat ke kanan dan ke kiri.

Alhasil, sikap terlalu independen itulah yang akhirnya merelakan dia kehilangan teman-teman politik semasa kejayaannya lima tahun silam. Malang memang, di ujung tanduk kursi yang terlihat enak-enak susah itu, pria yang genap 60 tahun usianya, kini mulai meratap masa depan yang tak seindah impian.

Lelaki asal Garut ini baru saja dianugerahi Best Sentral Banker Award 2007 oleh Global Finance Magazine. Anugerah itu diperolehnya atas prestasi menjaga stabilitas moneter di Indonesia. Dengan predikat A bersama 4 orang gubernur bank sentral lain seperti Malaysia dan Filipina, BA berhasil mengalahkan Bernanke yang selama ini memangku moneter Amerika Serikat. Tak hanya itu, BA juga telah menyandang guru besar dari almamaternya Universitas Padjajaran.

Itu baru prestasi secara pribadi, belum lagi pencapaiannya mengamankan rupiah di tengah badai krisis. Ketika AS mengobati penyakit kredit rumah (subprime mortgage), kebijakan frontal ditempuh Bernanke untuk memangkas suku bunga acuan The Fed menjadi 3% dari yang sebelumnya di atas 5%. Ini menjadi ambigu bagi BI ketika dana-dana asing berdatangan dan seketika pun keluar mencari tempat makan yang lebih menguntungkan. Jelas, jika pemangku moneter tidak lihai, sudah pasti rupiah terdepresi dan terapresiasi seenak jidat investor.

Menggapai-gapai angka inflasi yang serendah mungkin juga sebuah prestasi yang tak bisa dilupakan. Kenaikan BBM pada 2005 memicu angka inflasi double digit hingga 17% dan dalam dua tahun dapat ditekan menjadi di bawah 7%. Inflasi adalah setan yang menggeroti nyawa rakyat kecil, pajak termahal yang terpaksa diemban mereka akibat kenaikan harga bahan pokok.

Tugas-tugas itu mungkin sebanding dengan salary yang konon mencapai Rp5 miliar per tahun. Bayangkan berapa miliar duit yang terkumpul selama lima tahun masa jabatannya. Duit sebanyak itu bisa membawanya keliling dunia dengan kapal pesiar, beli lamborgini keliling Jakarta, membangun rumah model minimalis di bilangan Kebayoran Baru atau Pondok Indah, dan apalah maunya.

Wajar saja jika akhirnya satu bangku diperebutkan dengan kapal politik berbahan bakar suap. Begitu kejamnya tanah air ini yang ternyata lebih kejam dari ibukota dan ibu tiri. Dia mampu menendang dengan kaki seorang yang sudah berjuang puluhan triliun untuk menahan lonjakan angka inflasi dan menjaga fluktuasi nilai tukar. Indonesia tanah air beta, negara yang penuh dengan dosa. Merelakan segala cara untuk menduduki satu bangku. Mempertaruhkan rakyat dan nama baik negara di dunia internasional.

Menyandang status tersangka bagi BA menjadi anugrah buat wartawan BI yang berhasil memasang namanya di setiap head line surat kabar. Selamat untuk Iras, Fajar, Fahmi, Tomi, Novri, Una, Eko, Sofian, dan of course Fathiyah. Kita memang harus kriitis melihat realita dan tidak terjebak oleh puitisasi sang sastrawan yang membantu membuat 4.000 karakter lebih tulisan kita. BA mungkin telah mengaliri darah empati kita dengan statement nya.

Jujur, perasaan ku kali ini lebih dalam dibandingkan saat BA statement pertama kali setelah malam itu Detik Com mencantumkan namanya sebagai tersangka KPK. Ini bukanlah karena momen yang hampir bertepatan dengan hari kasih sayang (valentine). Entah kenapa aku begitu bergemetar mendengar pernyataannya bahwa dia tak berniat untuk ikut dalam bursa pemilihan gubernur BI selanjutnya. “Melihat semua ini, saya menegaskan bahwa setelah masa jabatan saya berakhir, saya tidak berniat untuk menduduki jabatan ini kembali. Saya meyakini sebagai warga negara akan tetap mengabdikan diri pada bangsa dan negara yang kita cintai,” tutur Burhanuddin Abdullah di sambut tepuk tangan ratusan pegawai BI siang tadi di gedung mewah Bank Indonesia lobby menara Syafrudin.

Mungkin pernyataan itu tak seironis kalimat yang dilontarkan pertama kali oleh BA di tempat yang sama sembilan hari lalu. “Sebagai manusia, saya terpukul dan sedih atas tudingan KPK tersebut, tapi saya tak akan mengumbar perasaan itu dan harus segera kembali pada logika,” ucap BA dalam statement pertama nya.

Akhirnya, tanpa ingin mencari tau siapa-siapa behind the screen film bertajuk “Mengorbankan Negara untuk Satu Bangku,” aku cukup puas dengan tontonan yang begitu membuatku terkesan. Hanya satu yang ku catat, ketika tanah air tak mencintai orang-orang berprestasi, cintailah tanah airmu dengan cara sendiri. (Aston Hotel Semanggi, 12 Februari 2008) 

Bookmark and Share

Jam Makan Siang

January 24th, 2008 by mencarisuami

Suatu siang di kawasan Sarinah gw menemui seorang Ibu muda yang memberikan tawaran kerja di sebuah bank syariah terbesar di Indonesia. Gila aja, gw lagi cinta-cintanya sama dunia jurnalistik harus merelakan pergi dari pekerjaan seindah ini.

Tak lain dan tak bukan adalah demi cinta. Kata orang bijak sih banyak hal yang harus dikorbankan buat menggapainya. Tapi kali ini sungguh pengorbanan luar biasa dimana hati dan logika saling adu jotos. Kenapa juga gwe harus resign padahal gw tau karir disini akan nanjak terus, tapi kenapa juga gw gak buktikan bahwa gw siap lakuin apa aja buat dia, lelaki masa depan gw, calon imam dalam rumah tangga gw.

Lets talk about the woman who met me this lunch. Pertemuan kami tadi tak hanya membahas soal pekerjaan, tapi juga percintaan. Kami bergosip tentang para pewarta wanita yang belum juga menuntaskan kesendiriannya menjelang sore. Satu pernyataan aristoteles diungkap seraya mematahkan teori gw atas surat Ar Rum ayat 21 bahwa Allah menciptakan manusia berpasangan. Dia menjelaskan, kenapa banyak juga orang yang belum menikah hingga usia senja.

Aristoteles menyebutkan tebanglah yang paling dekat dengan mu, dan petik bunga yang paling indah di samping mu. Masalahnya, manusia selalu beranggapan, “Akh bukan yang ini pohon yang layak di tebang, bukan juga ini bunga yang indah itu, lihat dulu di depan sana pasti masih banyak,” ketika berjalan sekian kilo meter, tak juga dia memilih pohon mana yang akan ditebang. Ternyata dia sudah melewati pohon yang harusnya dia tebang.

Begitulah jodoh kita, mungkin sudah datang di depan mata tapi masih dipungkiri, hingga akhirnya jodoh itu pun tak kembali lagi karena sebuah ketamakan. Paling tidak dari omongan singkat jam 12 siang tadi, gw berfikir untuk memantapkan hati menikah  dengan orang baik yang disugukan Allah buat gw saat ini.

Ada dua pilihan? Disitulah takdir mulai bermain. Yang satu siap menerima apapun adanya gw, yang satu lagi siap merombak pondasi hidup gw yang mulai rapuh. Yang satu dekat secara fisik, dan yang satu lagi dekat secara bathin. Damn, ini pilihan absurd! And I just wanna make a good decision. Mulai berfikir gak mau salah tebang. Ini urusan hidup jangka panjang, dimana gw harus nyaman disampingnya, gak perlu malu dengan kebiasaan ngigok, tidur ngangak, ngiler, atau ngorok. Gak juga ngerasa gak jadi diri sendiri atau asing dengan kehidupan yang baru.

Bookmark and Share

2008 for change

January 6th, 2008 by mencarisuami

Aku bukanlah malaikat. aku manusia biasa yang pernah tersesat sekian lama. Hingga hati jauh dari ketenangan. aku tlah letih dan merasa saatnya untuk kembali pada diriku yang dulu…

Aku bukanlah malaikat.aku manusia biasa. yang juga pernah khilaf dan salah arah. hingga sering berontak dan kufur nikmat. aku tlah lelah dan merasa kini waktu yang tepat untuk berubah….

aku bukanlah malaikat. aku orang yang ingin berubah. belajar tanggungjawab dan berbagi pada seseorang yg kusayangi seperti aku menyayangi diri sendiri…

aku bukanlah malaikat. aku ingin meniti sisa hidup ini. untuk persembahkan yang terbaik kepada orangtua selagi masih ada. aku yang menyesal. aku butuh seseorang yang mampu memahami. yang dapat mengiringi langkahku seperti apa yang sekarang aku lakukan…

aku bukanlah malaikat. aku yang ingin bertobat. pada kesalahan yang makin menumpuk. untuk menebus segalanya dengan karya dan amal nyata…

Ya Allah, limpahkan untuk kami kesejukan hati. Kuatkan iman kami dan berikan kami kemudahan. Jangan biarkan kami terpuruk dan selalu mengingkari berjuta nikmat dari-Mu. Ya Allah, tuntunlah kami dan muliakanlah kami. Jauhkan kami dari maksiat dan hura-hura yang menyiksa. Berikan kami kesanggupan untuk memahami hikmah dibalik perjalanan hidup kami. Berikan kami kebahagiaan dan ketentraman batin.

Selamatkan hidup kami, muliakan orangtua kami, saudara dan orang-orang yang kami cintai. Berikan mereka kebahagiaan. Limpahkan untuk kami rezeki yang halal. Bukakan untuk kami pintu dunia. Hingga kami dapat memasuki masa depan yang lebih gemilang. Jauhkan dan hindarkan kami dari kesia-siaan. Mantapkan hati kami untuk menerima kebenaran. Gerakkan jiwa kami untuk melakukan perubahan. saat ini dan bukan nanti sebelum mati…

Ampuni kesalahan kami, kuatkan iman kami hingga kami yakin menjalani semuanya…Ya Allah Engkau Pelindung kami, maka kabulkanlah doa ini….Thanks to M Hariman Bahtiar, you change all my life (2008 for change)

Bookmark and Share