Mengorbankan Negara untuk Satu Bangku
Paras nya mulai tak sesegar sosok Burhanudin Abdullah (BA) di setiap peliputan yang sudah ku geluti setahun sudah. Sembilan hari terakhir ini kasus tersangka korupsi aliran dana YPPI Rp100miliar menyelinap di relung hidupnya.
Mantan Menko jaman Gusdur ini dinilai arogan oleh banyak pihak. Sebelum dianugerahi gelar tersangka oleh KPK, dia sudah dua kali tak menghadiri panggilan komite yang disinyalir mulai terpengaruh nuansa politik. Dia selalu mengunggulkan sikap independen sebagai mpunya lembaga moneter tanah air. Tak ingin pula posisinya berat ke kanan dan ke kiri.
Alhasil, sikap terlalu independen itulah yang akhirnya merelakan dia kehilangan teman-teman politik semasa kejayaannya lima tahun silam. Malang memang, di ujung tanduk kursi yang terlihat enak-enak susah itu, pria yang genap 60 tahun usianya, kini mulai meratap masa depan yang tak seindah impian.
Lelaki asal Garut ini baru saja dianugerahi Best Sentral Banker Award 2007 oleh Global Finance Magazine. Anugerah itu diperolehnya atas prestasi menjaga stabilitas moneter di Indonesia. Dengan predikat A bersama 4 orang gubernur bank sentral lain seperti Malaysia dan Filipina, BA berhasil mengalahkan Bernanke yang selama ini memangku moneter Amerika Serikat. Tak hanya itu, BA juga telah menyandang guru besar dari almamaternya Universitas Padjajaran.
Itu baru prestasi secara pribadi, belum lagi pencapaiannya mengamankan rupiah di tengah badai krisis. Ketika AS mengobati penyakit kredit rumah (subprime mortgage), kebijakan frontal ditempuh Bernanke untuk memangkas suku bunga acuan The Fed menjadi 3% dari yang sebelumnya di atas 5%. Ini menjadi ambigu bagi BI ketika dana-dana asing berdatangan dan seketika pun keluar mencari tempat makan yang lebih menguntungkan. Jelas, jika pemangku moneter tidak lihai, sudah pasti rupiah terdepresi dan terapresiasi seenak jidat investor.
Menggapai-gapai angka inflasi yang serendah mungkin juga sebuah prestasi yang tak bisa dilupakan. Kenaikan BBM pada 2005 memicu angka inflasi double digit hingga 17% dan dalam dua tahun dapat ditekan menjadi di bawah 7%. Inflasi adalah setan yang menggeroti nyawa rakyat kecil, pajak termahal yang terpaksa diemban mereka akibat kenaikan harga bahan pokok.
Tugas-tugas itu mungkin sebanding dengan salary yang konon mencapai Rp5 miliar per tahun. Bayangkan berapa miliar duit yang terkumpul selama lima tahun masa jabatannya. Duit sebanyak itu bisa membawanya keliling dunia dengan kapal pesiar, beli lamborgini keliling Jakarta, membangun rumah model minimalis di bilangan Kebayoran Baru atau Pondok Indah, dan apalah maunya.
Wajar saja jika akhirnya satu bangku diperebutkan dengan kapal politik berbahan bakar suap. Begitu kejamnya tanah air ini yang ternyata lebih kejam dari ibukota dan ibu tiri. Dia mampu menendang dengan kaki seorang yang sudah berjuang puluhan triliun untuk menahan lonjakan angka inflasi dan menjaga fluktuasi nilai tukar. Indonesia tanah air beta, negara yang penuh dengan dosa. Merelakan segala cara untuk menduduki satu bangku. Mempertaruhkan rakyat dan nama baik negara di dunia internasional.
Menyandang status tersangka bagi BA menjadi anugrah buat wartawan BI yang berhasil memasang namanya di setiap head line surat kabar. Selamat untuk Iras, Fajar, Fahmi, Tomi, Novri, Una, Eko, Sofian, dan of course Fathiyah. Kita memang harus kriitis melihat realita dan tidak terjebak oleh puitisasi sang sastrawan yang membantu membuat 4.000 karakter lebih tulisan kita. BA mungkin telah mengaliri darah empati kita dengan statement nya.
Jujur, perasaan ku kali ini lebih dalam dibandingkan saat BA statement pertama kali setelah malam itu Detik Com mencantumkan namanya sebagai tersangka KPK. Ini bukanlah karena momen yang hampir bertepatan dengan hari kasih sayang (valentine). Entah kenapa aku begitu bergemetar mendengar pernyataannya bahwa dia tak berniat untuk ikut dalam bursa pemilihan gubernur BI selanjutnya. “Melihat semua ini, saya menegaskan bahwa setelah masa jabatan saya berakhir, saya tidak berniat untuk menduduki jabatan ini kembali. Saya meyakini sebagai warga negara akan tetap mengabdikan diri pada bangsa dan negara yang kita cintai,” tutur Burhanuddin Abdullah di sambut tepuk tangan ratusan pegawai BI siang tadi di gedung mewah Bank Indonesia lobby menara Syafrudin.
Mungkin pernyataan itu tak seironis kalimat yang dilontarkan pertama kali oleh BA di tempat yang sama sembilan hari lalu. “Sebagai manusia, saya terpukul dan sedih atas tudingan KPK tersebut, tapi saya tak akan mengumbar perasaan itu dan harus segera kembali pada logika,” ucap BA dalam statement pertama nya.
Akhirnya, tanpa ingin mencari tau siapa-siapa behind the screen film bertajuk “Mengorbankan Negara untuk Satu Bangku,” aku cukup puas dengan tontonan yang begitu membuatku terkesan. Hanya satu yang ku catat, ketika tanah air tak mencintai orang-orang berprestasi, cintailah tanah airmu dengan cara sendiri. (Aston Hotel Semanggi, 12 Februari 2008)