JAKARTAKU SAYANG JAKARTAKU MALANG
Tuesday, November 13th, 2007Jakarta kotaku indah dan permai, disanalah aku dilahirkan. Sepenggal lirik lagu ini menamparku beberapa bulan terakhir. Jakarta berubah menjadi buas dan teramat sangar.
Jalan raya menjadi ajang adu keberanian tiap pengendara. Maklum saja, semua punya urusan dan waktu yang harus dipenuhi. Sayangnya kondisi jalan tak lagi bersahabat. Alhasil, pengendara motor melaju bak punya nyawa sepuluh. Pengguna mobil pribadi tak mau kalah, sodok sana sodok sini tuk mencari celah. Supir taxi bisa jadi sudah gila hadapi situasi ini, penumpang tak dapat, bensin habis, setoran tetap jalan. Belum lagi supir angkot yang petantang petenteng ngetem di jalanan. Ini jalan umum Lay, bukan milik nenek moyang kau. Akhirnya, jalan raya layaknya ladang kematian dan arena tinju yang tak bertuan.
Potret Jakarta kian mencekam pasca pembangunan koridor busway delapan sampai sepuluh. Jalan ular ini menjamah komplek orang bahkan sampai terminal petikemas tanjung priok. Pemkot DKI punya segudang alasan untuk meneruskan proyek besar ini. Katanya, jika tidak ada angkutan masal, Jakarta akan mati total pada 2014. Bos, kini Jakarta telah lumpuh,tolong diobati dulu. Kami memang perlu pemimpin bertangan besi, tapi tetap punya hati nurani.
Kendati pun benar obat itu adalah busway, monorail, atau subway, lalu bagaimana dengan mobil dan motor mereka. Harus berdebukah barang itu karam di garasi. Apa siap anak orang kaya berdesak desak di angkutan umum, atau seorang eksekutif muda merelakan paha dan dadanya jadi tontonan umum, sementara sedan mulusnya nganggur di rumah. Atau seorang wartawan yang dikejar deadline dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain.
Busway yang beroperasi dua tahun nyatanya tak memberikan kontribusi siginifikan untuk sebuah tujuan. Hanya kurang dari 13% pengguna kendaraan pribadi pindah ke angkutan umum teristimewa di ibukota. Sementara laju penjualan roda dua dan empat melesat tajam hingga lebih dari 70%, balasannya, ruas jalan kian menyempit.
Penelitian sekolah transportasi menyebutkan, kerugian akibat macet dalam setahun kemarin mencapai Rp 43 triliun. Asumsinya diambil dari liter bensin yang mengalir deras karena jalan tersendat, appoinment yang batal, ketinggalan pesawat, atau apalah bentuknya. Ini angka tahun 2006, berapa kali lipatkah kerugian pada 2007? Tak terbayangkan uang sebesar itu habis percuma di jalanan. Padahal, kalau melihat jumlahnya yang triliunan, kita bisa membuat pembangkit listrik tenaga batubara dengan nilai investasi Rp13 triliun, bisa merevitalisasi perkebunan seharga Rp 10 triliun. Bisa membuat jalan tol Cikampek-Palimanan senilai Rp 13 triliun, atau bahkan meringankan utang negara.
Betapa kayanya orang Jakarta. Sejatinya kekayaan itu dapat dinikmati, ternyata tidak. Mereka duduk di mercy tapi hatinya seperti di metromini. Mereka punya rumah mewah di bilangan pluit, pondok indah, bintaro, tapi hanya dinikmati tak lebih dari 8 jam. Malang memang, hanya pembantu yang mengecap manis kekayaannya.
Dan akhirnya penduduk asli Jakarta harus merelakan rumahnya dijamah orang banyak yang tak punya sopan santun. Mengalah untuk mereka yang mengejar impian meraih sukses di ibu kota. Jakarta tak bertambah luas, ukurannya tetap segitu, hanya ladang, kebun bayam dan pohon cemara yang ditebas untuk pelebaran jalan. Tapi pertumbuhan penduduk yang berdatangan tak terbendung. Jakarta semakin padat dan sesak. Mengajarkan manusia di dalamnya untuk sabar dalam serapah. dan mendidik masyarakat menjadi anarkis.
Sungguh sebuah pilihan dilematis saat penduduk shock dengan realisasi pembangunan. Jakarta memang sedang sakit parah, hanya ada dua pilihan, sembuh atau kronis. Jika keberhasilan transportasi masal bisa dienyam dalam beberapa tahun kedepan, artinya Jakarta punya harapan untuk pulih. Tapi itu harus diikuti oleh regulasi yang tegas. Batasi jumlah kendaraan yang beredar, bisa dengan sistem pelat genap ganjil, atau melarang kendaraan yang sudah harus turun mesin keliaran. Tapi ini akan melibatkan kerugian berbagai pihak, departemen perdagangan, pajak, dan para pengusaha. Sekarang tinggal bagaimana mereka memandang sebuah masalah untuk kemaslahatan orang banyak.
Blog ini dibuat dengan hati dan kondisi dimana sang penulis sedang tidak bersahabat dengan Jakarta, …(Kuta Bali, 10 Nop 07)