Archive for April, 2008

Di Sebuah Persimpangan

Monday, April 7th, 2008

“Aku hanya sebuah jalan bercabang, masih bisa balik arah untuk kembali, sebelum ini menjadi sejarah, dan tak bisa lagi balik arah”…sepenggal kalimat itu dikirim oleh seorang teman lewat yahoo messanger akhir pekan lalu. Teman yang ternyata begitu berbekas di kepalaku saat ini.

Mulailah sebuah masa dimana aku mulai merasa cinta di titik nadir. Kadang persimpangan yang selalu menyebabkan kebingungan. Air mata dan senyum tak menentukan pertanda pedih atau bahagia.

Aku mulai menohok pada satu makna dari segala pencarian. Jalan yang selalu saja menawarkan cita rasa tersendiri untuk ku pilih. Sampai aku pun memilih jalan bebas hambatan dan terpaksa merogo kocek lebih dalam.

Tentang pernikahan, percintaan, dan pertemanan. Tiga kata yang punya makna beda. Menikah bukan berarti telah memilih orang yang kita cintai. Mencintai juga bukan menjanjikan adanya pernikahan. Dan pertemanan lebih simple dari itu semua, tapi punya hasil akhir yang lebih signifikan.

Kali ini aku tak peduli tentang posisi. Andai saja rencana besar itu belum ada, mungkin tak se pelik ini rasanya. Tapi, adalah sebuah rencana di atas rencana. Aku tak mungkin lagi menolak takdir. Membiarkan banyak mata menangis untuk memenangkan ego ku sendirian. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan untuk menuruti kata hati.

Tak mampu pula aku berteriak, “Kenapa baru sekarang aku merasa ingin pergi?” padahal aku sangat sadar betapa kebosanan pada sosok realita. Ingin rasanya melewati jalan di tengah gunung gemunung dan lambaian ilalang. Tapi cukup sudah, aku tlah berada dalam antrian panjang pintu tol, tak mampu mundur, tapi belum juga tiba di mulut jalan. Aku pun terpaksa bersabar menanti pada giliran.

Aku Cuma punya sedikit waktu menikmati nuansa biru dengan teman yang sangat luar biasa. Teman yang pada akhirnya membuyarkan konsentrasi ku pada yang satu untuk memaruh kasih sayang menjadi dua. Akhirnya, aku hanya bisa membiarkan waktu berjalan begitu cepat. Dan berupaya sekuat tenaga agar bisa diperlambat kecepatannya.

Sesekali akal liarku berkata untuk melewati lebih jauh jalan yang bercabang itu. Tapi malaikat kecilku berkata, ini lah persimpangan yang membutuhkan sebuah peta. Sekali kau ambil jalan yang salah, waktumu akan terbuang sia-sia.